Redaktur: Redaksi
Mahasiswa saat aksi di depan gerbang kantor Gubernur Kaltim.(Istimewa)
Samarinda, Afiliasi.net - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Menggugat (Geram) memadati Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada Senin (23/2/2026). Massa menyuarakan kritik tajam terhadap satu tahun kepemimpinan Rudy Mas’ud – Seno Aji, terutama terkait implementasi program pendidikan "Gratispol" yang dinilai gagal memenuhi ekspektasi masyarakat.
Aksi yang dimulai pukul 14.40 WITA ini diwarnai dengan pembakaran ban dan blokade jalan sebagai bentuk protes atas ketidakmerataan akses pendidikan gratis yang dijanjikan. Koordinator aksi, Angga, menyebut program tersebut lebih banyak muncul sebagai pencitraan di media daripada solusi nyata di kampus-kampus.
“Kami melihat implementasinya masih sangat minim. Bahkan ada mahasiswa yang diminta menalangi biaya terlebih dahulu. Ini bukan lagi Gratispol, tetapi seolah menjadi ‘Rungkatpol’,” tegas Angga di sela-sela orasi.
Mahasiswa mencontohkan kasus di Universitas Mulawarman (Unmul), di mana banyak pendaftar tidak masuk dalam daftar penerima meskipun program tersebut dikampanyekan untuk seluruh mahasiswa Kaltim. Persyaratan yang dianggap berbelit-belit disinyalir menjadi penghambat utama realisasi janji "Pendidikan Gratis" tersebut.
Selain isu pendidikan, Geram membawa tujuh poin tuntutan krusial, mulai dari desakan transparansi APBD hingga kritik terhadap praktik politik dinasti yang dianggap mencederai demokrasi di Benua Etam.
Tujuh Tuntutan Utama Gerakan Mahasiswa Menggugat (Geram):
Hingga sore hari, massa berhasil masuk ke halaman kantor gubernur untuk melakukan audiensi langsung dengan Gubernur Rudy Mas’ud. Pertemuan ini diharapkan melahirkan jawaban konkret atas nasib ribuan mahasiswa yang saat ini masih menggantungkan harapan pada janji pendidikan gratis di Kalimantan Timur. (*)
TOPIK BERITA TERKAIT:
#geram-kaltim #rudy-masud #demo #unmul #gratispol