Redaktur: Redaksi
Museum Kayu Tenggarong yang nampak sepi pengunjung (Istimewa)
Tenggarong, Afiliasi.net – Gempita libur Lebaran 2026 ternyata tidak dirasakan oleh Museum Kayu di Tenggarong. Destinasi wisata edukasi yang menyimpan ratusan koleksi kayu langka ini justru mengalami kelesuan pengunjung akibat menjamurnya destinasi wisata baru di Kutai Kartanegara yang lebih menarik minat wisatawan milenial dan keluarga.
Petugas Museum Kayu, Mardi, mengungkapkan bahwa selama periode libur Lebaran tahun ini, jumlah pengunjung hanya tercatat sekitar 200 orang. Angka ini menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan terpecahnya fokus kunjungan wisatawan ke lokasi rekreasi alam.
“Sekarang pilihan wisata semakin beragam, jadi pengunjung terbagi. Ada yang lebih memilih ke wisata alam, ada juga ke tempat lain. Perbaikan fasilitas tetap ada, tapi bertahap karena keterbatasan anggaran sehingga hasilnya belum terlalu terlihat signifikan,” ujar Mardi, Rabu, 25 Maret 2026.
Padahal, museum ini menyimpan kekayaan hayati nusantara berupa 400 koleksi berbahan kayu, termasuk fosil kayu yang telah membatu selama ribuan tahun akibat proses geologi alami. Selain edukasi jenis kayu, pengunjung juga bisa melihat berbagai alat musik tradisional serta ornamen kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada hasil hutan.
Meski harga tiket dibanderol sangat terjangkau, yakni Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak, pengelola mengaku kesulitan melakukan inovasi untuk menarik massa. Keterbatasan dana membuat ide-ide pengembangan museum hanya berakhir di atas kertas, sementara fasilitas pendukung mulai membutuhkan peremajaan total agar mampu bersaing dengan tempat rekreasi modern lainnya di Kukar.
“Banyak ide pengembangan, tapi belum bisa dijalankan karena keterbatasan dana. Kami berharap Museum Kayu tetap bisa eksis sebagai destinasi edukasi bagi generasi muda di tengah banyaknya pilihan wisata saat ini,” pungkas Mardi. (*)
TOPIK BERITA TERKAIT:
#museum-kayu-tenggarong #wisata-kukar #pariwisata-kaltim